Arsip Bulanan: Mei 2015

Resensi ALAMUT: tidak ada yang benar, semuanya diperbolehkan

Tidak ada yang benar, semuanya diperbolehkan

Alamut merupakan novel yang menginspirasi video game Assassin Creed, ditulis oleh Vladimir Bartol pada tahun 1938. Alamut bercerita tentang seorang pemimpin sekte Ismailiyah saat sedang berjaya yaitu Hassan ibn Sabah. Ismailiyah merupakan salah satu aliran Syiah. Dalam perjalanannya, Hassan melakukan intrik-intrik tertentu untuk mempertahankan kesetiaan para muridnya dan repotasinya sebagai Panglima Tertinggi Ismailiyah, dan membuat Ismailiyah dikenal oleh masyarakat.

alamut_cover

Hassan ibn Sabah, Sang Orang Tua dari Gunung

Hassan ibn Sabah adalah Panglima tertinggi Alamut yang memiliki mimpi untuk membawa Ismailiyah mencapai puncak kejayaan. Hassan melatih para pemuda belia untuk menjadi Fedayeen, prajurit yang disumpah akan setia pada Alamut dan Ismailiyah sampai mati. Tidak hanya itu saja, Hassan bahkan membangun surga fiktif dibelakang benteng Alamut yang diperuntukan untuk para Fedayeen agar mereka percaya sang Panglima benar-benar seorang Nabi dan pemegang kunci surga. Hal ini berhasil membuat para Fedayeen kecanduan dan rela mati demi Hassan karena mereka percaya mereka akan masuk surga jika mereka taat pada perintah Hassan.

Rencana Hassan tak sebatas hanya itu. Hassan yang dikenal sebagai orang yang cerdik dan ahli taktik perang berusaha membuat para prajurit dan kaum Alamut berkesan dengan apa yang dilakukannya dan memerintahkan Fedayeen untuk membunuh para musuh Alamut Ismailiyah.

Avani, cucu Tahir

Novel ini mengambil sudut pandang dari beberapa tokoh selain Hassan. Kisah Avani bermula saat dia datang ke Alamut untuk menjadi dilatih menjadi Fedayeen karena permintaan sang kakek. Avani tak mengetahui fakta apapun tentang Alamut dan Ismailiyah. Dia adalah seorang pemuda yang masih belia dan sangat lugu. Ajaran-ajaran sekte memang membuat dia bingung pada awalnya, tetapi dengan cepat dia menyesuaikan diri. Avani bahkan menjadi salah satu daru tiga murid yang terpilih untuk dikirim ke surga ciptaan Hassan. Karena keluguan Avani dan teman-teman, mereka percaya bahwa mereka berada di surga. Mereka menjadi kecanduan ganja yang diberikan sesaat sebelum mereka memasuki surga, minuman keras dan wanita. Hal itulah yang membuat mereka rela mati dan melakukan apapun agar mereka bisa kembali ke surga. Hassan yang memang telah merencanakan hal ini tidak tinggal diam, segera dia menyuruh Avani untuk membunuh musuh besarnya, Nizam Al Mulk.

Avani yang sudah kecanduan ingin ke surga segera melaksanakan perintah sang Panglima, dan dia berhasil. Tetapi, aksinya diketahui oleh Nizam Al Mulk. Sesaat sebelum meninggal, Nizam memberitahu Avani bahwa dia telah dibohongi oleh Hassan. Avani sadar dan berjanji akan melenyapkan Hassan demi menebus kesalahannya telah membunuh orang yang tidak bersalah.

Avani pergi menemui Hassan, tetapi bukan Hassan namanya kalau tidak membolak balikan pemikiran Avani yang masih labil dan lugu dengan berbagai teorinya. Avani mulai terguncang, dan akhirnya Hassan lah yang menang.

Kesimpulan:

Mungkin bagi penggemar sejarah dan penasaran dengan kisah Assassin, buku ini menyenangkan untuk dibaca dan dijadikan referensi, tetapi agak sedikit membingungkan untuk orang awam. Setting cerita berlatar Persia pada abad abad ke-11 memang tidak familiar. Tetapi secara keseluruhan, sang penulis berhasil menulis cerita yang lumayan rumit ini dengan baik dan bahasanya mudah dimengerti walaupun menurut hemat saya, akhir dari novel ini sangat menggantung.

Catatan Kecil:

Penulis mengembangkan cerita tentang Hassan ibn Sabah ini berdasarkan cerita sejarah tetang sekte Ismailiyah yang berdiam di lembah Alamut yang kemudian terkenal sebagai kelompok pembunuh atau Assassin. Bahkan, nama-nama tokoh yang ada di novel sama persis dengan nama-nama tokoh sejarah Ismailiyah pada masa itu. Kelompok Assassin ini merupakan Fedayeen yang membunuh siapa saja yang diperintahkan oleh Hassan dan tidak peduli latar belakang korban mereka, untuk itulah mereka kemudian lebih dikenal sebagai pembunuh bayaran. Mereka membunuh orang-orang yang dianggap mengganggu dan merugikan mereka. Bahkan pahlawan Islam penakluk Jerusalem, Saladin diperkirakan juga dibunuh oleh kaum Assassin ini.

Sumber:

  • Alamut: Tidak Ada yang Benar, Semuanya Diperbolehkan, oleh Vladimir Bartol tahun 1938, versi terjemahan diterbitkan oleh Matahari tahun 2014.
  • Assassin: Kaum Pembunuh di Lembah Alamut, ditulis oleh Berbard Lewis, versi terjemahan diterbitkan oleh Haura Pustaka tahun 2009.

Assassin: Kaum Pembunuh di Lembah Alamut, ditulis oleh Berbard Lewis, versi terjemahan diterbitkan oleh Haura Pustaka tahun 2009.